GSI News - PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kesulitan- kesulitan yang dialami klub peserta kompetisinya.
Kompetisi paling bergengsi yang digelar PT LPIS, yakni Liga Primer Indonesia (IPL), dijadwalkan mulai bergulir 10 Februari, atau dua hari lagi, namun salah satu peserta mereka, Arema, justru membubarkan timnya karena ditinggal investornya, PT Binanusa. Selain itu, tim Persebaya juga sudah sebulan lebih meliburkan diri karena kucuran dana yang dijanjikan konsorsium tak juga turun, sedangkan PSM Makassar menanggung hutang gaji pemain.
“Mau jadi apa IPL ini jika tanpa Arema dan Persebaya? Setahu saya dua tim ini adalah magnet di IPL,” kata pelatih Arema, Dejan Antonic.
“Kalau kondisinya seperti ini, yang jelas jangan sampai menyalahkan pemain dan pelatih. Itulah pemikiran saya, terserah orang mau terima atau tidak terima,” mantan pemain Persebaya ini menambahkan. Saat membentuk kompetisinya, PT LPIS menjanjikan kucuran dana subsidi dari konsorsium kepada klub. Selain itu, pengelola juga berjanji akan membantu klub mencari investor. Setelah satu musim berlalu, banyak klub masih tak punya sponsor sementara kucuran dana subsidi yang dijanjikan terhenti di tengah musim kompetisi.
“Kalau liga hancur, Timnas juga hancur, siapa yang salah. Menurut saya LPIS tidak profesional,” kata pelatih asal Serbia itu.
Posting Komentar